OKU SELATAN — Sebuah sekolah tidak tumbuh hanya karena bertambahnya bangunan. Di dalam perjalanannya ada perencanaan, proses panjang dan konsistensi untuk memastikan setiap ruang yang dibangun benar-benar menjadi tempat tumbuhnya harapan. Perjalanan itu pula yang tergambar di SMA Negeri 1 Buay Pemaca selama kepemimpinan Azharudin, S.Pd., M.M., dari sekolah yang pernah menghadapi keterbatasan ruang belajar hingga kini mulai mengarahkan langkah pada peningkatan prestasi dan masa depan peserta didiknya.

Ketika Azharudin mulai memimpin pada 2011, SMA Negeri 1 Buay Pemaca baru memiliki sembilan ruang kelas. Keterbatasan tersebut membuat kegiatan belajar mengajar harus dilaksanakan dalam dua sif. Tahun demi tahun, pembenahan dilakukan secara bertahap hingga jumlah ruang kelas menjadi 18. Tidak hanya ruang belajar, taman sekolah, meja dan kursi, fasilitas olahraga berupa lapangan voli dan tenis meja hingga area parkir turut dibenahi untuk mendukung aktivitas warga sekolah.

Bagi Azharudin, pembangunan tersebut bukan sekadar meninggalkan jejak berupa bangunan. Fasilitas yang telah tersedia harus dirawat dan memberikan manfaat bagi pendidikan dalam jangka panjang. Karena itu, pengelolaan sekolah menurutnya dijalankan melalui perencanaan, penentuan skala prioritas, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Prinsip tersebut menjadi bagian dari perjalanan SMA Negeri 1 Buay Pemaca melewati berbagai keterbatasan yang pernah dihadapi.

Kini, setelah persoalan ruang belajar berangsur teratasi, arah pembenahan bergerak semakin jauh ke dalam ruang kelas: meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar (KBM). Berada di wilayah pedesaan tidak ingin dijadikan alasan untuk tertinggal. Azharudin ingin anak-anak yang menempuh pendidikan di Buay Pemaca tetap mempunyai kesempatan untuk berkembang dan bersaing sebagaimana siswa yang bersekolah di wilayah perkotaan.

“Insya Allah kami meningkatkan pencapaian kinerja ini, terutama di bidang akademik. Tahun ini alhamdulillah nilai rapor sekolah meningkat. Kalau bisa kita pertahankan supaya terus meningkat. KBM juga kita tingkatkan, suasananya kondusif dan berjalan lancar. Walaupun kita di pedesaan, kita berharap tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah yang ada di kota,” ujar Azharudin.

Harapan tersebut mulai terlihat dari perjalanan para siswa setelah menyelesaikan pendidikan. Azharudin menyebut TNI dan Polri menjadi salah satu tujuan yang banyak diminati siswa, dengan sekitar empat hingga lima lulusan setiap tahun berhasil diterima.

Pada jalur pendidikan tinggi, ia mengatakan enam siswa tahun lalu berhasil diterima di Universitas Sriwijaya (Unsri), sementara sejumlah siswa lainnya melanjutkan pendidikan ke Universitas Lampung (Unila). Capaian itulah yang ingin terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.

“Komitmen kita, setiap tahun kalau bisa ada penambahan prestasi, baik yang diterima di perguruan tinggi maupun yang masuk instansi seperti TNI dan Polri. Caranya tidak lain dengan meningkatkan KBM. Alhamdulillah, satu sampai dua tahun ini sudah ada peningkatan. Insya Allah bisa kita pertahankan, syukur bisa kita tingkatkan lagi,” katanya.

Keseriusan tersebut diterjemahkan melalui pendampingan akademik. Siswa yang akan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) diberikan tambahan pembelajaran dan pendalaman materi.

Sekolah juga meminjamkan buku-buku latihan soal agar siswa dapat mempersiapkan diri lebih baik. Sementara di luar kelas, pembentukan karakter diperkuat melalui Pramuka, Paskibra dan kegiatan lainnya, termasuk melibatkan unsur kecamatan dan kepolisian dalam pembinaan serta kegiatan upacara secara berkala.

Perjalanan dari sembilan menjadi 18 ruang kelas akhirnya bukan hanya cerita tentang bertambahnya bangunan SMA Negeri 1 Buay Pemaca.

Di baliknya terdapat perubahan kebutuhan dan tantangan. Jika dahulu pekerjaan besar sekolah adalah memastikan anak-anak mendapatkan ruang untuk belajar tanpa harus bergantian dalam dua sif, kini tantangannya adalah memastikan dari ruang-ruang tersebut lahir semakin banyak siswa yang mampu melanjutkan pendidikan, meraih prestasi dan mencapai cita-citanya.

Bagi Azharudin, apa yang telah dicapai belum menjadi garis akhir. Ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar mengenang perubahan yang sudah terjadi, yakni memastikan perubahan itu terus bergerak.

Dari membangun ruang kelas menuju membangun kualitas pembelajaran, dari membenahi fasilitas menuju mempersiapkan masa depan siswa, perjalanan kepemimpinannya meninggalkan satu pesan sederhana bagi SMA Negeri 1 Buay Pemaca: sekolah di pedesaan pun dapat terus bertumbuh ketika keterbatasan dijawab dengan perencanaan, kerja yang berkelanjutan dan keberanian untuk menempatkan masa depan anak-anak sebagai tujuan.